….. aku tidak sehebat Danang Sutawidjaja”

“Betul tak ada yang sehebat dia. Termasuk keturunannya.”

“Lalu? Apakah siapa saja yang berhasil bertemu dengan Ibu Ratu, berarti menjadi sekutu Ibu?”

“Tak pernah ada orang yang bertemu dengan ku.”

“Kan banyak yang klaim????”

“Mereka bohong besar. Kalau raja atau pejabat <jaman sekarang> klaim ketemu aku berarti itu hanya ciptaannya saja, sebagai sarana legitimasi kekuasaan. Kalau paranormal klaim ketemu aku atau bahkan klaim menjadi anak angkatku, itu hanya legitimasi saja, biar dikira sakti.”

“Lalu… aku?”

“Kau juga tidak pernah bertemu aku…”

“Jadi aku hanya dialog dengan diriku sendiri?

“Ya, tepatnya dengan hati nuranimu sendiri. Hati nuranimu bisa kau ajak bicara dan bisa kau ciptakan jadi siapa saja, Ibu Ratu Kidul, Nyai Pelet, Sunan Kalijaga, dan lain2 tokoh yang berbau mistik kekuasaan dan kesaktian. Dan itu sah-sah saja, tapi pesanku jangan kliam macam-macam kepada publik, karena itu bohong belaka.”

“Termasuk aku? Yang mau nulis di blogku sendiri?

“Ya!!”

“Astaghfirulloh….Masyaalloh…”

Sayup-sayup terdengar adzan subuh. Ki Sugeng tersadar dari laku raga sukmanya. Dia bangun dan ambil air wudlu dan sholat subuh sebagai jalma lumrah kang asipat titah. Nuwun.