Diponegoro

Secara pribadi aku curiga, benarkah yang datang ke Magelang atas undangan Belanda untuk bersidang itu adalah benar-2 Pangeran Diponegoro…. Dalam semedi terakhirku, aku mendengar dialogue sbb:

“Aku diundang bersidang ke Magelang untuk mengakhiri kemelut perang dengan suatu perjanjian. Bagaimana pendapatmu?”

“Kepareng matur, Pangeran. Hamba agak curiga, sebab dlm paduka menghadiri sidang, tidak boleh membawa senjata atau pasukan… Apa Belanda bisa dipercaya? Selama ini bukankah mereka licik.”  Kata salah satu sahabat.

“Ya, firasatku juga berkata demikian, lalu?

“Sebaiknya Pangeran jangan pergi!”

“Apakah aku tidak dicap sebagai orang yang tidak cinta damai?”

“Begini saja Pangeran, sebaiknya Pangeran utusan Ki Adhi Suryo… untuk ke Magelang. Dia mirip dengan Pangeran, baik segi penampilan maupun dedeg piadegnya? Izinkan dia mengenakan pakaian Pangeran…”

“Ide bagus. Atur saja… saya setuju. Bila Belanda beritikad baik dan Ki Suryo pulang dengan membawa hasil sidang. Itu yang aku harapkan; tapi bila Belanda ingkar, dan Suryo dibunuh…Oh, dia menjadi tumbal!!”

“Demi keselamatan Pangeran selaku pemimpin kami, saya kira Ki Suryo akan setuju. Dia pun punya kesaktian luar biasa.. dengan ‘Cakar Mautnya”.

Singkat cerita, Ki Suryo diberi hak memakai pakaian kebesaran Pangeran Diponegoro, dan berangkat ke Magelang. Tidak lupa mampir ke rumah, pamit pada istrinya. Istrinya benar-2 tak mengenali lagi suaminya. Dia mengira bahwa yang datang adalah Pangeran Diponegoro. Setelah “berbasa-basi” sebentar (tahu kan maksudnya?), Ki Suryo pergi ke Magelang dengan Kuda Kebesaran Pangeran Diponegoro.

Sejarah mencatat. Belanda ingkar. Bisa ditebak “Pangeran Diponegoro palsu” ditangkap, hingga wafatnya di luar Jawa. Pangeran Diponegoro yang asli… mengembara menjadi Waliyullah penyebar agama Islam. Dia berhasil menyamar hingga akhir hayatnya.

Kini masih terlihat bekas “Cakar Maut” di meja sidang. (Wallohu ‘alam).

Ki Sugeng Purwanto Diningrat