Mendengar frasa ‘Jaman Edan’,  orang Indonesia khususnya suku Jawa langsung teringat bait-bait keramat Pujangga terkenal Ranggawarsita berjudul Kalatidha, terutama bait ke 7 yang berbunyi:

Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Milu edan nora tahan
Yen tan milu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah karsa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada

Banyak sekali orang Jawa yang hafal bait tersebut sebab dipakai sebagai nasehat kepada anak cucu di mana mereka hidup dalam ‘Jaman Edan’ seperti sekarang ini. Jaman Edan dapat dipakai sebagai simbol ketidakjujuran, dan ‘raja tega’ dalam arti kita tega menipu kawan maupun lawan. Perbedaan antara kawan dan lawan hanya terletak pada ‘kepentingan’. Siapa saja yang sejalan dengan kepentingan: itulah kawan, tidak perduli satu jam yang lalu dia menjadi musuh bebuyutan. Sebaliknya siapa saja yang tidak sejalan dengan kepentingan: itulah lawan, tidak perduli satu jam yang lalu karaoke bersama.

Anda ingin tidak ikut ‘edan’? Itu bukan hal yang mudah sebab anda bisa kelaparan dan tidak mendapat apa-2. Namun perlu diingat yang dapat ‘apa2’ meskipun secara lahiriah nampak enak, namun sebenarnya dia menyimpan bom waktu yang suatu saat nanti bisa meledak, dan pasti meledak sendiri minimal dimakan bathara kala alias seiring dengan berjalannya waktu.

Oleh karena itu wanti-2 nya para leluhur, kita sebaiknya tidak ikut edan, namun tetap ‘waras’  artinya ingat dan waspada. Perhatikan betapa mudahnya bagi Alloh untuk memutar balik segalanya sehingga hidup ini laksana cakra manggilingan, berubah dari masa ke masa.  Contoh sederhana orang yang kaya raya bisa saja mati dalam kemiskinan sebab uangnya habis di rumah sakit untuk menghormati kedatangan ajalnya.

Mari berkontemplasi, untuk apa kita diciptakan di dunia ini….

Pengelola Blog

Ki Sugeng Purwanto Diningrat