Keris bagi orang Indonesia sudah tidak asing lagi. Masing-masing suku di Indonesia memiliki ciri khas masalah keris sebagai identitas kesukuan. Kali ini saya akan mengupas sedikit tentang keris khususnya keris yang ada atau yang beridentitas Jawa.

Keris yang baik harus memenuhi kriteria: Tuh Si Rap Puh. Tuh berarti masih utuh alias tidak cacat; namun lucunya cacat bawaan karena dimakan usia, justru akan memperkuat kriteria Puh yaitu sepuh artinya kuno, semakin keris itu kuno semakin tinggi nilai seni dan tuahnya. Keris yang dianggap paling kuno adalah keris jaman Singasari, kalau yang asli betul buatan jaman Singasari, itu bernilai ekonomi sangat tinggi. Seorang kolektor keris berani merogoh kanthongnya hingga ratusan bahkan milyaran untuk mendapat keris kuno buatan Singasari.

Berikutnya adalah keris buatan Majapahit. Keris buatan kedua jaman tersebut masih dipengaruhi agama Hindu Budha.  Yang terakhir adalah keris buatan jaman Mataram, yang konon khodam penunggunya sudah banyak yang beraliran agama Islam.

Kriteria Si, berarti besi yang dipakai sebagai bahan baku. Konon pada jaman dulu bahan keris ada campuran meteor yang jatuh dari langit. Bahan baku ini juga akan mempengaruhi tuah yang ada dalam keris setelah jadi. Namun sebenarnya tergantung empu yang membuat. Empu yang sakti mampu membuat sugesti pada hasil karyanya sehingga memiliki tuah bagi yang memakai, yang konon para empu itu membuat keris berdasarkan pesanan para priagung (pejabat) kerajaan, dari Raja hingga Pejabat setingkat RT pada waktu itu. Empu tentunya akan menyesuaikan keris buatannya dengan pemesannya. Sedangkan kriteria Rap, berarti garapan atau seni yang muncul sebagai karya sang empu. Tentunya dapat dipastikan bahwa keris jaman Mataram memiliki bentuk yang lebih rumit dibanding keris jaman Majapahit atau Singasari. Ini konsekwensi logis dari perkembangan teknologi tempa pada waktu itu.

Yang banyak diperjualbelikan masa kini itu disebut keris kontemporer atau repro. Jangan sinis dulu!  Keris kontemporer pun secara sekilas hampir sulit dibedakan dengan keris asli sehingga kita patut memberikan acungan jempol bagi empu masa kini (abad 19) yang mampu me-repro keris kuno.

Tuah

Benarkah keris bertuah? Tergantung kriteria Puh-nya. Untuk keris kontemporer biasanya dianggap keris kosongan. Oleh para spiritualis, biasanya keris kosongan tersebut diisi tuah, dengan memasukkan sejenis khodam bangsa jin, kalau memang spiritualis itu pakar ‘prajineman’. Kalau spiritualisnya beraliran Islam tulen, seperti yang tergabung dalam blog ini, keris kontemporer bisa diisi dengan Asma’ul Khusna dengan ritual tertentu yang disesuaikan dengan pemesan. Penyesuaian harus dilihat dari dua sisi, sesuai dengan tabiat orang yang mau memakai, dan tuah yang dikehendaki.

Sekali telah diselaraskan dengan user, keris  dapat memberikan sugesti positif  pada user tersebut sesuai dengan pesanan tuah. Dengan kata lain orang tersebut kemudian dapat memiliki insting yang peka terhadap perilaku sehari-hari, termasuk dalam mengambil keputusan penting masalah pekerjaan, hubungan sosial maupun rumah tangga.

Dalam Blog ini juga ditawarkan keris kontemporer, yang siap diselaraskan dengan user sesuai pesanan. Silahkan click halaman Produk Ghoib Instant.

Tidak percaya keris bernilai ekonomi tinggi? Klik di sini! Blognya berbahasa Inggris karena memang sudah Go International

Tujuan utama kami bukan hendak berklenik ria, namun lebih pada pelestarian budaya Jawa. Nuwun….

Salam

Pengelola