Seperti telah kita ketahui bahwa syeikh Siti Jenar yang hidup pada zaman kerajaan Islam petama. Dimana beliau secara hakekot sama dengan Wali Songo. namun beliau tidak mau bergabung dengan Wali Sanga sebagai penopang kerajaan Demak secara spiritual. Dia lebih suka hidup menyendiri sebagai kaum marginal. Pada kenyataannya, Syeikh Siti Jenar berhasil menyebarkan Agama Islam nyaris menyamai kiprah Sunan Kali Jaga dalam hal kwalitas maupun kwantitas pengikutnya.

Hal seperti ini membuat Sulthan Patah khawatir kekuasaannya bisa berkurang. Maka, dihembuskan isu-isu miring terhadap tata cara beribadah Syeikh Siti Jenar yang konon berbeda dengan ajaran resmi Wali Songo sebagai “MUI” nya Kraton Demak Bintoro. Puncak dari perseteruan antara Kraton Demak dengan MUInya dan Syeikh Siti Jenar sebagai lambang kaum marginal berakhir dengan relanya Syeikh Siti Jenar dibunuh oleh salah satu Wali Songo.

Ketika jenazah ditaruh di masjid, maka keluarlah cahaya yang sangat menyilaukan.

“Yen ngono Dhimas Siti Jenar bener” komentar salah satu anggota Wali Songo.

Hal inilah yang membuat Raden Patah semakin geram sehingga memerintahkan jenazah Syeikh Siti Jenar diganti dengan bangkai anjing kudisan. Inilah yang diumumkan kepada rakyat bahwa jenazah berubah menjadi anjing kudisan. Maka semakin jelaslah nasib orang marginal terhadap penguasa.

Isu yang paling menyakitkan ummat adalah dikatakan bahwa Syeikh Siti Jenar tidak pernah sholat. Padahal yang dimaksud sholat menurut Syeikh Siti Jenar itu sholat yang dimanifestasikan ke dalam cipta, rasa dan karsa. Sebagaimana dinukilkan dalam kitab suci, sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Orang yang belum bisa mencapai hakekot sholat dalam perilaku sehari-hari oleh ajaran Siti Jenar digolongkan sholat yang sifatnya masih olah raga. Belum sampai pada olah rasa.

Nuwun