Kita punya UU anti-Pornografi lho? Bahkan dulu pernah jadi tarik ulur kepentingan Pemerintah dan DPR, dan dijadikan komoditas politik serta proyek yang menghasilkan “uang”.  Yang “pro” (kawan-2 garis keras, berjenggot, berjubah, kemana-mana bawa tasbih) ramai-2 teriak “Allohuakbar, segera syahkan UU Anti-Pornografi, ….heeeeee”. Amit-2 beringasnya mirip preman di New York City. Yang ‘kontra’ tak mau kalah, “Yang porno, apanya? Itu tergantung asosiasi otak kita. Kalau sampai disyahkan, kreatifitas seni akan mandul…”  Para praktisi hukum dan akademisi ramai-2 bikin seminar untuk mengkaji secara material.

Setelah disyahkan? Pret-prepet… rep sirep pada sanalika… (kata dalang). Masih banyak baliho iklan dengan gambar sur, ukuran rasaksa,  terpampang manis, mengundang syahwat, sambil nawarin produk X, Y, Z. Panti-panti pijat, karaoke dengan menu “khusus” masih bebas beroprasi (kalaupun ada razia, itu proyek biasa, sebelum romadhon,natal dan hari keagamaan lainnya,  nadanyapun masih lagu lama. Tangkap, tebus, lepas). Situs-2 internet pun masih banyak yang menampilkan video, foto yang porno. Beberapa warnet, membuat system tertentu agar situs porno tidak bisa diakses. Good! Tapi apa bisa membendung porno pribadi lewat speedy dan jenis plug and play lainnya?

Apa orang lupa, bahwa manusia lahir akibat perbuatan porno kedua orang tua kita? Meskipun porno yang legal alias dalam bingkai perkawinan?

Kelemahan kita adalah pada komitmen sadar hukum. Di Australia, yang konon sebagai negara berbudaya barat, sangat komitmen terhadap peraturan (Law). Ada UU Pelecehan Seksual, pelaksanaannya bagus. Saya pun pernah didenda gara-gara “melirik” wanita, dan dia tidak terima. Tapi dibalik itu, kalau suka sama suka, ciuman di perpustakaan pun tidak ada yang melarang. Melarang berarti melanggar hak asasi manusia. Piye jal? Di Indonesia, apel cewek melebihi jam kunjung… ramai-2 ditangkap pemuda jomblo…Hahaha, jangan tersinggung meks.

Kiranya masih jauh perjalanan bangsa Indonesia untuk mencapai sila ke2 (well-civilized), sila ke3 (bagaimana bisa bersatu, partai politik makin marak, nyempal sana-nyempal sini, bikin partai kayak mendirikan cafe), mau kembali ke jaman Bung Karno, dengan partai gurem, yang tidak mampu sekedar bikin garis2 besar haluan negara…akhirnya pidato Bung Karno, yang disyahkan jadi pedoman?

Partai-2 kecil sekarang itupun kalau tidak dapat masa, akhirnya kualisi…untuk bagi-bagi kursi. Jan… nggak mudeng deh. Esuk musuh, sore bolo. Rakyat diadu domba untuk fanatik pada partainya… yang atas saling rangkul bisik-2 jatah kursi…

Yaudah, right or wrong my country. Dulu orang ramai-2 pingin semua lini pimpinan pemerintahan dipilih langsung (Bupati, Guberbur, Presiden). Sekarang dilaksanakan…dengan biaya besar… malah pada golput. Piye karepe?

Wis…wis…wis. Right or wrong my country. Untung saja proyek UU tentang …. layu sebelum berkembang.

Wong Mbeling Group