Eh, teman-2 tahu nggak? Sebagai wanita, kita tidak bisa berjihad ala pria, “angkat” senjata ke medan laga, cari nafkah buat menopang keluarga, dan lain-2 amalan yang hanya pantas dilakukan oleh pria. Apa ini berarti Tuhan tidak adil? Apa ini penyebab semaraknya gerakan fenimisme, menuntuk persamaan hak antara pria dan wanita?

Tapi sebenarnya Tuhan sudah sangat adil, pria dan wanita punya tempat sendiri-sendiri.  Pria sebagai kepala keluarga harus menempatkan diri sebagai kepala keluarga, memikirkan hal-hal yang sifatnya makro, sedangkan istri sebagai pendamping suami, selalu membantu menegakkan kebijakan keluarga agar dapat terlaksana dengan baik. Apakah istri boleh bekearja di luar? Tergantung! Bila istri ada ketrampilan dan suami mengizinkan, boleh saja istri kerja diluar… tapi jangan workacholics, alias gila kerja sampai suami tak terurusi, anak2 kurang perhatian sehingga perilaku “suami” dan “anak” tidak terditeksi.

Perlu anda tahu laki2 itu (maaf) seperti anjing. Di rumah sudah dikasih makan, eh di jalan ada tulang kotor aja masih mau menjilati. Idih… mudah-2an tidak semua deh, minimal suami kita masing-2.

Mari kita masuk materi sesuai judul “leburnya amal sang istri”. Aku ingat wejangan guruku, jelek-2 gini pernah berguru lo! Seorang istri akan lebur amalnya tatkala dia:

1) membantah perintah suaminya, pada hal, perintah itu tidak bertentangan dengan agama;

2) menolak diajak “tidur bersama” pada hal kita tidak sedang menstruasi;

3) mengungkit kelemahan suami: “Mas, tidak usah banyak cerita, aku jadi istri kamu tuh, dapet apa? Rumah cuman ngontrak, blanja sedikit…pusiiiiing deh, aku. Kapan sih, Mas, kamu nyeningin aku?

4) tidak menggunakan bahasa yang santun pada suami. Bagi kawan yang orang Jawa, hendaknya pakai bahasa Jawa krama inggil, minimal berbahasa yang baik. Untuk yang satu ini guruku pernah mengancam: “Santri putriku berani memakai bahasa kasar pada suami, akan aku tuntut  di akherat nanti.”

Nah, begitu kawan… mari berbagi pengalaman di blog yang kita cintai ini.

For and on behalf of

Idha Nurhamidah/Sugeng Purwanto