Jodoh, mau pilih jodoh? Sesungguhnya seperti judi: bisa kalah, bisa menang. Cowok yang semula kita idamkan kadang berubah jadi ‘horor’ setelah jadi suami. Sebaliknya, cowok yang semula biasa2 saja atau bahkan yang kita benci sekalipun, kadang setelah jadi suami, eh… ternyata hebat seperti bima, meskipun tidak pernah minum jamu kuku bima.

Pilhan Ortu Vs Pilihan Sendiri

Pilihan ortu? Idih, amit-amit di jaman yang serba online ini; seolah-olah ortu dituntut untuk ‘yes’ saja. Tapi tunggu! Kadang-2 pil ortu, ADA baiknya juga. Saat rumah tangga diguncang prahara, ortu bisa bantu selesaikan, coba kalau cowok itu pilihan kita, paling ortu bilang: Salah sendiri…. Akhirnya kita sendiri yang kedodoran selesaikan masalah. Pokoknya kalau, kalau cowok pilihan ortu, biasanya kita sedikit menderita di awal (karena penyesuaian), namun yaitu…kalau ada masalah kita bisa mengadu ke ortu…Tuh pilihan PakBu, sekarang jadi es, aku tak pernah disentuhnya. Paling2 nanti ortu menghibur… Bukannya kau suka esteh, waktu masih gadis, Dhina? Kita lalu sadar, apapun dia adalah suami yang wajib kita hormati.

Sebaliknya, kalau pilihan kita, ortu bakal tutup mata, tutup telinga kalau ada masalah… Itulah, kalau kita bahagia dengan suami pilihan sendiri, ortu juga ikut bahagia, komentarnya…Gadisku memang hebat, coba suami pilhannya, ternyata “jos” tidak seperti yang orang lain bayangkan.

Managemen Keluarga

Sesungguhnya, siapapun suami kita, itu adalah keputusan suci saat ijab qobul. Pria boleh memilih, tapi wanita berhak menolak. Sah  perkawinan, terletak pada relanya wanita, meskipun hanya dengan mahar kalimat I LOVE YOU, sebaliknya, meskipun dengan mahar bongkahan emas gunung merapi, tapi wanita tidak rela, batalah perkawinan. Lalu apa definisi “rela”?

Rela karena terpaksa (menhormati orang tua, takut ancaman, dll.) itu namanya tidak rela, meskipun pada awalnya baik2 saja, sesungguhnya kita sedang menanam bom waktu… yang bisa meledak setiap saat ….

Rela beneran: Ini yang sulit dilihat dengan mata, namun harus dilihat dengan hati. Untuk yang satu ini, managemen keluarga harus berdasarkan filsafat “sebaik-baik orang pasti ada jeleknya, dan sejelek-jelek orang pasti ada baiknya, ” Mencintai suami itu harus, mencintai jeleknya dan baiknya. Kata jeleknya, aku sengaja taruh di depan, sebab siapa yang bisa mencintai jeleknya, dijamin tidak kesulitan mencintai bainya. Juga pakailah filsafat matematika: Ingat (+) berarti amarah dan (-) berarti diam. Keduanya sangat tidak bersahabat. Kalau suami sedang (+) kitanya harus (-), dengarkan dia, siapa tahu kita yang salah. Bila suami sedang (-) apalagi (-) in bed, uuh!! nyebelin, kita coba rayu, yang paling tahu titik romantis suami kan istri sendiri, tanyakan masalahnya, siapa tahu kita bisa ikut selesaikan, atau sedikitnya bantu2 sebagai curhat suami. Ssst! Jangan sampai suami curhat sama yang lain, aduh …kuburan deh.

AWAS. kalau suami lagi (+) jangan ikut-ikutan (+) perang mulut…habis semua! Udah tetangga dengar…dan dijamin tidak akan selesaikan masalah. JUGA, kalau suami lagi (-) jangan ikut-ikutan (-) nanti bisa lomba diam dan perang es, juga tidak memencahkan masalah.

Istri yang baik tidak mudah mengadu masalah ke orang lain, meskipun ortu sendiri. Orang lain akan komentar: “Tuh, kalau lagi “enaknya” diembat sendiri. Giliran ada masalah, kita2 yang direpotin”

Namun perlu diingat, kita kadang butuh bantuan orang lain untuk memecahkan masalah. Untuk yang ini, pilihlah orang yang tepat…. kalau bisa konsultan… dan jangan mengobral masalah di mana2

Sekian.

For and onbehalf of

Idha Nurhamidah / Sugeng Purwanto