TAK SEHEBAT DANANG SUTAWIDJAJA

Petir menyambar, hujan lebat tidak menyurutkan semangat Ki Sugeng Purwanto Diningrat untuk tetep bersemedi di pantai selatan. Tekadnya sudah bulat–ingin bertemu Ibu Ratu Kidul, bukan Nyai Roro Kidul,juga  apalagi Nyai Blorong. Para spiritualis harus berhati-hati dengan ketiga tokoh ini karena mereka kadang nampak serupa namun tak sama. Ibu Ratu Kidul  selama ini dijakini menjadi pelindung Kasultanan Mataram (Solo dan Yogya), dia lah yang pertama kali membantu Danang Sutawidjaja dalam mendirikan Kraton Mataram, dan hingga sekarang Trah Kerajaan Mataran masih dalam perlindungannya. Pembaca jangan terkecoh yang dimaksud perlindungan di sini adalah sekutu, bukan perlindungan mutlak, seperti perlindungan Alloh kepada hambaNya.

Mengapa Ki Sugeng tidak ngacir lari, meski ada hujan dan petir… la raganya tetap tiduran di padepokan dan yang di pantai selatan itu hanya sukmanya saja, bagi kaum spiritualis, aktivitas seperti ini disebut raga sukma.  Banyak yang bisa raga sukma, tergantung sejauh mana niat dan konsentrasi spiritualis, sebab di dalam jagad kecil kita, sebenarnya kita bisa menjelajahi dunia dengan hanya “tiduran” saja.

Mengapa bertemu Ibu Ratu Kidul harus berujut sukma, sebab Ibu Ratu Kidul sendiri juga berujud badan halus. Hanya orang-2 tertentu saja yang bisa bertemu Ibu Ratu Kidul dengan badan wadag.

Singkat cerita, Ki Sugeng sudah berhadap-hadapan dengan Ibu Ratu Kidul. Ibu Ratu melarang Ki Sugeng yang hendak bersujud….

“Jangan bersujud kepadaku… Bersujudlah kepada Alloh. Bila kisanak bersujud padaku, derajat kewalianku akan turun.”

“Apakah Ibu Ratu termasuk golongan aulia?”

“Ya, tapi hanya untuk kaumku, bukan untuk manusia.”

“Maksud Ibu?”

“Seperti juga di alam manusia, di alam kamipun ada yang baik dan ada yang jahat. Ada waliyulloh, ada juga ulama dan masih banyak lagi. Namun untuk kenabian, kami mengikuti Nabi Muhammad, SAW karena beliau diutus untuk golongan jin dan manusia,”

“Benarkah Ibu Ratu bisa menjadi pelindung?”

“Tidak benar. Aku hanya menjadi sekutu yang saling membantu. Aku bantu manusia yang berada dia jalan yang lurus, seperti halnya saat Kangmas Danang Sutawidjaja mendirikan kraton mataram. Keturunan Sultan Mataram juga menjadi sekutuku asal mereka tetap pada jalan yang lurus.”

“Apakah Ibu Ratu juga bisa menjadi sekutuku?”

“Bisa, asal….”

“Asal apa? Ibu Ratu?”

“Asal kisanak bisa menjawab pertanyaanku.”

“Demi Alloh, bertanyalah!”

“Mengapa kisanak mengawali kalimat permohonan itu dengan frasa Demi Alloh?”

“Sebab, aku hanya percaya kepada Alloh atas apa saja yang wujud dan tak wujud. Sedang aku tidak tahu apa-apa. Kemauan saya, langkah saya, dan apa saja yang ada pada saya… itu semua sudah diatur olehNya.”

“Kalau tahu demikian mengapa kisanak bertanya apakah aku sanggup menjadi sekutu kisanak.”

“Sebab aku tidak tahu apakah aku digariskan untuk bersekutu dengan Ibu Ratu… meskipun Ibu Ratu setuju menjadi sekutuku, itu tidak akan terlaksana tanpa izin Alloh, Sang Penguasa Tunggal.”

“Sebenarnya, dengan aku menemui kisanak di sini, kita sudah bersekutu.”

“Persekutuan macam mana? Aku tak sehebat Danang Sutawidjaja!”

(Bersambung)

About these ads