Dalam bahasa Jawa, orang tua sering menasehati anaknya: “Nak, ajining diri ana lathi, ajining raga,  ana busana…” Memang betul, orang yang bicaranya selalu konsisten dan berbobot tidak asal bunyi, dirinya akan berharga, dia akan dihormati dan dimulyakan. Contoh konkretnya,  pengusaha yang pingin sukses, rela duduk bersila di depan penasehat spiritualnya, hanya ingin mendengar fatwanya, meminta barokahnya, meminta (maaf) ‘jimat pelaris usaha’

Sedangkan “ajining raga, ana busana”. Dengan pakaian jendral komplit, seorang kopral mungkin akan dihormati oleh sesama tentara (lain pasukan tentunya), layaknya seorang jendral. Namun ketika dia mulai bicara…yang gak karuan, segera dia ketahuan bahwa dia bukan jendral.  Lain lagi, seorang jendral yang menyamar jadi petani, pada awalnya penduduk desa akan memperlakukan dia biasa saja seperti seorang petani, namun ketika dia mulai bicara tentang ideologi, strategi, dll. Orang lalu kagum: “Siapa sebenarnya dia?” Bila sudah terkuak jati dirinya, orang ramai-ramai memulyakannya. Beberapa legenda telah membuktikannya, raja yang menyamar jadi rakyat jelata, untuk turba (turun kebawah), Sunan Kalijaga dengan penyamarannya… lebih berhasil dalam berdakwah.

Secara eksplisit Zainuddin MZ pernah berkata, “Jangan pikirkan dari mana asalnya, tapi apa isinya. Meskipun keluar dari mulut orang, kalau dia pembohong, jangan diambil. Meskipun keluar dari dubur ayam, kalau telor, ambil.”

“Ada yang kurang, Guru” Si Jonny nylemong…

“Apa?”

“Ajining pria ana kukila.”

“Maksudnya?”

“Laki-laki se-nggantheng apapun, sekaya apapun, setinggi apapun pangkatnya, kalau kukila (burung)-nya gak berfungsi, apa arti indahnya dunia, apa arti cantiknya wanita…”

“La kan ada kuku bima….”

“Stop…stop dasar pengajian mbeling…”

About these ads